Followers

Friday, December 9, 2022

Ini Dia Kekuatan Belanda dan Argentina dalam Pertandingan Perempat Final World Cup Qatar

Belanda sepuluh kali tampil di Piala Dunia sejak 1934, 3 kali mencapai final. Tepatnya pada gelaran tahun 1974, 1978  dan 2010. Sayangnya dari tiga kali mencapai laga puncak tidak satupun berakhir sebagai juara. Makanya tim orange ini dikenal sebagai raja tanpa mahkota.

Ada banyak bintang yang dilahirkan Belanda. Para pemain hebat ini meramaikan berbagai kompetisi top Eropa. Sebut saja Wesley Sneidjer, yang malang melintang bersaama Ajax, Real Madrid, Inter Milan dan Galatasaray. Salah satu nama besar yang dimiliki negri kincir angin.

Nama lain ada mantan gelandang Madrid dan Hotspur,  Rafael Ferdinand Van der Vaart. Juga salah satu bintang dan nama populer di kalangan pecinta bola pada masanya. Layak disandingkan dengan para profesional lainnya. Serta masih banyak lagi yang tidak bisa disebut satu-satu.

Baca juga : Gara-Gara Pemain Sering Thowaf di Ka'bah Arab Saudi Mengalahkan Argentina

Yang terbaru para bintang yang masih bersinar, dibawa Belanda ke Piala Dunia Qatar, ada nama Gakpo yang bersanding dengan Mbappe dan Rashford dalam daftar pencetak goal terbanyak saat ini. Dengan gelontoran 3 goal. 

Sektor gelandang diisi bintang Barcelona Frenkie de Jong. Lini belakang ada Vandijk, yang sedang bersinar bersama Liverpool dan Natan Ake bek andalan Manchester City. Tim Nasional Belanda lumayan bertabur bintang di setiap lininya.

Di kursi kepelatihan, Louis Van Gaal salah satu pelatih papan atas Eropa, walau tidak terlalu sukses ketika menangani tim MU. Melihat materi pemain dan pelatih yang ada, orange siap bersaing memperebutkan gelar juara. Tinggal dilihat jalan takdir akan menentukan siapa yang akan jadi juara. Pada fase ini, semua tim sudah masuk 8 tim terbaik dunia, bedanya kecil sekali.

Di tim Argentina juga tidak kalah bagusnya. Ada nama-nama tenar menghiasi tim. Messi bintang PSG. Julian Alvarez penghuni tim utama Manchester City. Lautaro Martinez ujung tombak Inter Milan.

Lini depan Tim Tango dihuni nama-nama bomber haus goal yang sudah teruji di klub masing-masing. Baik secara mental kompetisi atau tekhnis. Lagi-lagi Argentina juga slah satu tim yang layak diperhitungkan sebagai juara.

La Albiceleste julukan Argentina ditukangi oleh pelatih yang masih tergolong muda, Lionil Scolani. Pelatih yang sudah mempersembahkan Copa America edisi 2021 yang lalu bersama skuat ini. Tentu tidak diragukan lagi kemampuan taktiknya.

Tidak seperti Belanda, Argentina sudah pernah menjadi raja piala dunia dengan dua mahkota. Tahun 1978 dan 1986. Secara sejarah tim Tango lebih kaya.

Negara ini sudah banyak melahirkan para bintang sepak bola. Yang paling fenomenal adalah Diego Armando Maradona dan legenda hidup dan masih aktif bermain saat ini Leonel Messi sendiri. Dan sederet nama beken lainnya.

Laga ini bisa disaksikan hari Sabtu, jam 02.00 WIB disiarkan langsung TV swasta nasional. Sayang sekali kalau melewatkan tayangannya. Karena evennya 4 tahun sekali. 

Baca juga : Oleh-Oleh dari Singapore

Prediksi pertandingan :

Pertandingan ini akan menyajikan tontonan pertandingan level tinggi. Peluangnya 50:50  untuk kedua tim. Dengan Argentina sedikit diunggulkan karena faktor materi pemain dan sejarah yang mengirinya. Namun sepak bola bukan matematika, hasilnya pasti. Bola itu bulat, hasilnya bisa saja keluar dari prediksi banyak orang. Kedua tim layak juara tahun ini. Tinggal menunggu takdir yang akan memilihnya.

Salam sehat tanpa batas !



Wednesday, December 7, 2022

Mengintip Kekuatan Brazil dan Kroasia dalam Pertarungan Perempat Final Piala Dunia 2022

Pada hari Jum'at tanggal 9 Desember 2022, jam 22.00,  kita akan menyaksikan laga seru antara dua tim yang telah berhasil membuktikan diri sebagai salah satu tim terbaik dunia saat ini. Brazil Vs Kroasia. Dua tim lintas benua, yang mewakili negara dengan kultur sepak bola yang sangat kental.

Prestasi terbaik Kroasia sejak keikutsertaannya dalam ajang piala dunia, berhasil menembus babak final Piala Dunia tahun 2018 di Rusia. Sebelum ditumbangkan Prancis dengan skor 4-2. Sekaligus Prancis berhasil menjuarai ajang tersebut. Dan Kroasia menjadi runner-upnya.

Pemain yang masih tersisa seperti Luka Modric masih menjadi andalan di lini tengah. Meski sudah berumur 37 tahun dan  tidak lagi muda, pemain yang merumput bersama Real Madrid ini masih dipercaya sebagai mentor bagi timnya. Mengingat pengalaman bermiain di level tertinggi dan berbagai tropi yang telah diraih. 

Kroasia masih dilatih oleh orang yang sama yang berhasil mengantarkan negara ini sebagai runner-up pada tahun 2018 silam, Zlatko Dalic. Taktisian oportunis yang sering gonta-ganti formasi dalam mengahadapi berbagai pertandingan. Tergantung lawan yang akan dihadapi. Terlihat dari formasi yang sering digunakannya dalam menyussun pemain, 4-2-3-1, 4-3-2-1, dan 4-1-4-1.

Baca juga : Membaca Peta Formasi 4-1-4-1 dalam Memenangkan Football Game

Sejauh ini Dalic sudah membuktikan bahwa dia juga layak diperhitungkan. Raihan runner-up tentu sebuah prestasi tersendiri bagi seorang pelatih. Sekarang berlaga di perempat final, merupakan bukti berikutnya dari sebuah kecerdikan dan konsistensi.

Coba kita lirik tim samba Brazil. Berbeda dengan Kroasia yang mentok pada posisi runner-up. Brazil merupakan pemengang gelar juara terbanyak di turnamen internasional ini. Dengan merengkuh 5 tropi. Negara ini rajanya. Tepatnya tahun 1958, 1962, 1970, 1994 dan 2002.

Dengan sejarah besar yang menempel pada  Brazil, di setiap turnamem 4 tahunan ini berlangsung, otomatis akan menjadi kandidat juara. Walau bersifat tidak pasti, tapi seluruh pengamat bola dunia, akan menempatkannya pada posisi favorit. Super powernya sepak bola. 

Mari kita lihat struktur pemain di dalamnya, Neymar sebagai salah satu pemegang rekor pemain termahal saat ini. Dengan nominal transfer dari Barca ke PSG tahun 2017, 222 juta euro. Kurs rupiah saat ini, 16.409.08. Berarti harga mega transfersnya 3.6 triliun rupiah. Uang sebanyak ini kalau dibelikan cendol tentu akan menjadi sungai, banjir lagi.

Baca juga : Ini Alasan Tim-Tim Kecil di Inggris Kerap Menggunakan Formasi 3-5-2

Kita lihat nama lain, ada Antony yang merumput bersama MU. Vinicius dan Rodrygo dengan Real Madrid. Jesus di Arsenal. Richarlison bersama Hotspurs. Alisson bersama Liverpool. Ederson keeper utama City. Dan sederet nama bintang di setiap lininya.

Di kursi pelatih tercantum nama Tite, pelatih yang berhasil mengantar Brazil sampai perempat final piala dunia edisi 2018. Menjuarai Copa America 2019, setelah 12 tahun puasa gelar. Prestasi yang cukup bagus bagi seorang pelatih. Formasi yang sering dipakai 4-3-3.

Melihat sisi sejarah kedua tim, Brazil jelas lebih unggul dari Kroasia. Demikian juga dari komposisi pemain, lagi-lagi Brazil lebih terlihat menjanjikan dari segi skill bermain, karena diperkuat para pemain bintang yang bertebaran di klub-klub elite Eropa. Di kursi pelatih Dalic dan Tite relatif seimbang.

Dalam laga nanti Brazil lebih diunggulkan untuk memenangkan pertandingan dan melaju ke babak selanjutnya. Prediksi ini tidak mutlak karena sifat relatif yang menempel dalam sepak bola. 70:30 untuk kemenangan tim samba. Bola itu bulat.

Salam sehat tanpa batas !



 

 

Tuesday, December 6, 2022

Hebat ! Ada Pemain Indonesia dalam Kemenangan Maroko atas Spanyol


Mungkin hanya segelintir orang yang memperkirakan Maroko akan menjungkalkan tim matador. Tim dengan kultur sepak bola yang kuat. Salah satu kiblat sepak bola modern. 

Hanya bermodalkan satu bintang Chelsea, Hakim Ziyeh yang ikut mengantarkan The Blues menjuarai Liga Champion Eropa edisi 2021 kala bersua Manchester City di Final. Di bawah komando Tuchel, yang menakodai tim biru asal Kota London kala itu. Melawan taktisian genius di kubu The Sky Blues, Pep Guardiola. 

Baja juga : Perjodohan Messi dengan Manchester City Berkah ataukah Musibah ? Ini Jawabannya

Terlibat dengan momentum pertarungan tingkat tinggi di antara dua pelatih dan sekaligus dua tim tangguh Eropa, seolah menyuntikkan virus mindset pemenang dalam diri Ziyeh. Virus itu pun menjalar ke seluruh tim Maroko.  Tak ayal lagi, tim yang bahkan kurang dilirik seluruh pengamat bola manapun ini, mampu menahan para penakluk banteng selama 2x45 menit waktu normal. Itupun sudah prestasi tersendiri sebenarnya. 

Pelatih Maroko seolah hanya perlu menduplikasi taktik Tuchel ketika mengalahkan Pep di final Liga Champion. Manchester City kala itu menguasai penguasaan bola. Memaksa Chelsea bertahan dengan mengandalkan serangan balik. Uniknya, Ziyahlah yang jadi penentu kemenangan Chelsea dengan goal tunggalnya. 

Baca juga : Membaca Peta Formasi 4-1-4-1 dalam Memenangkan Football Game

Luis Enrique bukanlah pelatih sembarangan. Mantan pelatih Barca plus Messi ini, telah munyumbangkan banyak tropi untuk klubnya. Penerus tiki-taka khas Spanyol. Dipaksa bermain imbang di waktu normal sampai 2x15 menit babak perpanjangan waktu usai. 

Kali ini bukan Ziyeh yang menjadi penentu kemenangan Maroko atas Spanyol. Tapi keeper Maroko dengan nama Jawa ini yang menjadi pahlawan salah satu perwakilan timur tengah. Mono. Ya, kita gak salah eja. Mirip dengan nama pemilik restoran ayam bakar "Mas Mono".

Mas Mono, maaf yang dimaksud Mono keeper Maroko, berhasil mementahkan 3 tembakan pemain Spanyol dalam adu pinalti. Termasuk tembakan salah satu pemain senior, Busquest. Yang sudah merasakan berbagai gelar juara bersama Barca. Skor akirpun menjadi 3-0 untuk kemenangan Maroko. 

Luar biasa Maroko. Telah menginspirasi bagaimana cara bermain melawan kandidat juara. Kita tunggu kiprahmu di fase berikutnya. Lawan selanjutnya, Portugal menunggu di depan mata. 

Salam sehat tanpa batas !




Sunday, December 4, 2022

Prancis Vs Polandia Bukan Sekadar Pertarungan Mbappe dan Lewandowski, Ini Hasilnya


Secara kasat mata hampir 60% manusia di planet bumi ini akan mengatakan Prancis akan keluar sebagai pemenang. Sisanya mungkin ke Polandia. Itu pun mungkin warga negara sana. 

Dari sudut pandang netral, pasti ke Prancis. Skuat prancis dihuni pemain-pemain yang berlaga di liga top Eropa. Bukan cuma itu, lebih spesifik memperkuat tim-tim kuat dengan mentalitas juara. 

Mbappe bersama PSG. Varane dengan MU. Lloris Memperkuat Hotspurs. Dan bamyak lagi. Mungkin gak perlu disebutkan semuanya. 

Beda dengan Polandia, Lewandowski satu-satunya pemain yang paling populer di tim mereka. Scezny mungkin termasuk di dalamnya. Yang lain, cendrung tidak dikenal. Walau berarti bukan, tidak bagus. 


Tidak dapat dipungkiri, para pemain yang terasah di kompetisi yang kompetitif, akan menciptakan skill dan mental juara pemain. Ini dibuktikan, selama dua puluh menit pertama, Polandia dikurung dalam areal pertahanan sendiri. Cuma sesekali keluar melakukan serangan balik. 

Prancis terlihat mendominasi permainan.  Kerjasama Dembele, Giroud dan Mbappe berhasil merepotkan para pemain Polandia yang bertahan total di belakang. Entah apalah istilahnya. Parkir kereta api juga boleh. 

Sebenarnya Polandia juga terlihat mengerikan ketika berhasil menguasai bola dan memberikan serangan balik, pada menit 30an. Dengan berhasil memborbardir pertahanan Prancis dengan tembakan bertubi-tubi. Namun, lini pertahanan Prancis yang dikomanadoi Varani dan Kounde berhasil menetralisir semua peluang yang ada. 

Di penghujung babak pertama, tepatnya menit ke 43, para pemain Prancis berhasil memecah kebuntuan. Sebuah umpan matang berhasil diselesaikan dengan apik oleh Giroud menjadi goal. Skor berubah 1-0 untuk keunggulan Prancis. 

Pada babak kedua berjalan nyaris tidak ada perubahan pola permaian. Masih dalam kendali Prancis. Kedua tim melakukan pergantian pemain. 


Sampai pada menit 74 umpan matang sampai pada Mbappe. Bintang PSG ini pun berhasil menghujamkan bola ke gawang Polandia. Skor berubah 2-0 untuk keunggulan Prancis. Menit ke 90 Mbappe berhasil menambah keunggulan menjadi 3-0. Goal hiburan Polandia dicetak Lewandoski dari titik putih pada masa injury time. Skor 3-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan, untuk kemenangan  Prancis.

Salam sehat tanpa batas ! 



Thursday, December 1, 2022

Belgia Emang Tidak Sebagus Manchester City

Penasaran mengetahui Kevin Debruyne mengeluh harus beradaptasi dengan permainan temen-temennya di Timnas Belgia. Penulis sempatkan menyaksikan Belgia melawan Kroasia. 15 menit pertama, sudah ketahuan alasan jendral lapangan tengah Manchester City ini mengeluh. 

Belum genap semenit pluit tanda pertandingan dimulai, gawang Curtois sudah terancam oleh sayap kiri Kroasia. Bukan bermaksud mendukung Debruyne, tapi tampak sekali kualitas pasing dan kemampuan menahan bola para pemain Belgia tidak sebagus para pemain City. Umpan sering eror dan ketika menguasai bola gampang direbut pemain lawan. 

Masih ada momentum dimana umpan terobosan berkelas dari Kevin ke sayap kiri, membuka peluang yang sangat matang. Lagi-lagi kualitas penyealesain Merten yang masih belum klinis, melambung kemana-mana. Peluang terbuag percuma. 


Untuk level Eropa, Belgia tidak jelek-jelek amet. Menjadi sebuah persoalan ketika publik negara tersebut menginginkan, persaingan di level tertinggi. Maka para pemain dalam tim nasional ini terkesan kurang terlalu bagus. 

Skor babak pertama pun, berakhir dengan sama kuat 0-0. Jadi Belgia pun aman. Walau sebenarnya ada momen pelanggaran di kotak pinalti. Bahkan wasit sempat menujuk titik pinalti, sebelum digagalkan oleh VAR, karena para pemain Kroasia dianggap offside terlebih dahulu. Untung saja. 

Babak kedua Martinez melakukan pergantian Merten dengan Lukaku. Dengan tujuan memberikan ketajaman dan efektifitas penyelesain akhir jadi goal. Ternyata hasilnya sama saja, pemain pinjaman Inter dari Chelsea ini tidak dalam form terbaik.  Menyia-nyiakan 4 peluang yang di miliki. 


Hasil akhir pun menjadi 0-0. Dengan hasil ini Belgia harus angkat kaki dari gelaran piala dunia kali ini. Bye Belgia. 

Generasi emas belgia tidak seperti yang diberitakan media. Ternyata bukan apa-apa. Hanya kumpulan pemain biasa saja. Keberadan Curtois, Debruyne  Hazard dan Lukaku pun tersa sia-sia. 

Debruyne benar.  Sehebat apapun dia mebdistribusikan umpan matang, tampa diimbangi kemampuan penyelesaian akhir temen-temennya, nonsen. Generasi emas itu ternyata hanya kumpulan kerikil. 

Salam sehat tanpa batas !