Followers

Monday, October 3, 2022

Warna Sepak Bola Spanyol dalam Kemenangan 14-0 Timnas Indonesia U-17 atas Guam


Timnas U-17 Indonesia Vs Guam, menyajikan pertandingan menarik, walau terkesan berat sebelah.  Indonesia melakukan tekanan di sepanjang babak pertama.  Sesekali hanya mendapat serangan balik dari tim lawan. 

Pesepak bola remaja ini, begitu tenang memainkan posisional game sepak bola khas Spanyol. Dengan kombinasi umpan-umpan pendek dan panjang yang akurat. Hasilnya di babak pertama, Indonesia sudah unggul 7-0. Luar biasa. 

Permainan passing dan driblling yang dilakukan para pemain muda ini begitu meyakinkan. Tak kalah bagusnya kemampuan shootingnya juga patut diacungi jempol. Akurasi dan finishing peluang juga sangat efektif. 


Ada dua goal babak pertama yang dihasilkan oleh heading pemain. Sebagai pembuktian bahwa anak-anak muda ini juga terlatih memanfaatkan umpan-umpan silang ke areal kotak pinalti lawan. Tekhnik mengumpannya terlihat cukup berkelas, untuk ukuran pemain seusia mereka. 

Berbeda dengan corak permainan timnas yang sudah-sudah, U-17 memperagakan permainan dengan pola serangan yang variatif. Sama sekali tidak monoton. Sesekali dari sayap kanan kiri. Terkadang juga lewat sektor gelandang. Maka Guam pun kelabakan. 


Cuma bisa ikut bahagia dan mendoakan semoga mendapat hasil yang terbaik. Usia masih belia. Teruslah berlatih dan belajar untuk terus meningkatkan skill olah bola. Pada saatnya kelak, prestasi hanyalah tinggal menunggu waktu. 

U-17 saat ini harus mampu membuktikan, tidak seperti generasi yang sudah lalu, setelah masuk usia senior, malah terjedi penurunan performa. Hingga sulit sekali menyaksikan tim senior berpreatasi. Bahkan pecinta bola, lebih menikmati permainan sepak bola remaja, yang lebih bisa diandalkan dalam urusan prestasi. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya. 

Pada babak kedua, Indonesia remaja tidak kalah ganasnya dari babak pertama. 7 goal lagi berhasil mereka lesakkan. Seperti ngajari Guam bagaimana cara bermain sepak bola, skorpun berakhir dengan 14-0. Luar biasa. Buah investasi dari perekrutan Luis Milla sebagai pelatih timnas beberapa waktu lalu. 

Sahabat Genius Football, jangan lupa bahagia, salam sehat tanpa batas! 


Sunday, October 2, 2022

Gak Tega Melihat MU Dipermalukan City

Menganalisis permainan MU Vs City terlihat tidak terlalu rumit. City begitu dominan menguasai bola. Umpan-umpan pendek dan panjang diperagakan pemain City dengan sangat akurat. 

Baru berjalan kurang dari 15 menit babak pertama Foden sudah membobol gawang  Degea. Diikuti dua goal Haland. Gantian disusul goal kedua Foden dari asis Haland. 
Babak pertama ditutup dengan keunggulan City 4-0.


Apa sebenarnya yang terjadi dengan Manchester United, klub dengan sejarah melimpah? Tadi malam, Fergie pelatih legendaris mereka,  bela-belain datang ke Etihad Stadium untuk memberikan suntikan moral. Sayang yang didapat rasa malu, mantan tim kesayangannya, dipecundangi City 4-0 hanya di babak pertama. 

Kejamnya lagi, di tengah sorak sorai dan gegap gempita para suporter City, seolah gak kuat menyaksikan tim kebanggaan mereka dibantai di kandang The Sky Blues, superter The Red Devils terpaksa meninggalkan stadion. 

Cristiano Ronaldo, Sang Legenda hidup jersey merah, terlihat sedih di bangku cadangan. Mungkin di periode pertama kedatangannya ke Old Traffold, dulu bak seorang raja sepak bola. Menchester begitu merah. Tapi hari ini begitu kebalikannya, dan kelabu. 

Pertandingan ini begitu tidak seimbang. Jersey biru langit dihuni pemain-pemain gesit. Dengan umpan-umpan yang akurat.  Bahkan hanya dengan tekhnik umpan melengkung De Bruyne, pertahanan mereka langsung terbelah. 

Babak kedua sedikit memberi hiburan pada Manchester Merah lewat goal Antony pada menit 56. Cuma langsung dibalas Haland pada menit 64, sekaligus mencetak hattrick. Seolah gak mau ketinggalan, Foden menambah penderitaan Manchester sebelah, dengan goal menit 72. Juga mencetak hattrick dalam Derbi kali ini. 


Martial sedikit memberi hiburan buat tim merah dengan mencetak goal pada menit 84 dan 90. Tapi dua goalnya, tidak mampu menyelamatkan timnya dari kekalahan. Skor bertahan 6-3 untuk kemenangan City. Ternyata Manchester itu biru langit kawan. 

Sahabat Genius Football, tetap semagat dan bahagia. Jangan lupa respect. Salam sehat tanpa batas! 

Tuesday, September 27, 2022

Ada Taktik Klopp dan Pep Guardiola Pada Laga Indonesia Vs Curacao Leg Ke-2

                       
Ada yang menarik di laga Curacao-Indonesia leg ke-2. Ada dua corak yang diperagakan para pemain timnas. Dua taste permainan itu, dominan dipakai tim-tim besar Eropa. Khususnya Inggris. 

Awal-awal babak pertama, terlihat jelas gaya "gegen pressing" Liverpool, sampai menghasilkan 1 goal Dimas Drajat. Ketika kehilangan bola, pemain timnas seolah kompak merebut bola sebagai sebuah sistem. Pola macam ini cukup efektif mengganggu para pemain Curacao dalam mengembangkan permainan. 

Jelas sekali, Tayong mempelajari sistem ini dan mengadopsinya dalam permainan timnas. Apalagi dengan keterbukaan dan kemajuan tekhnologi informatika seperti saat ini. Dalam permainan sah-sah saja cara mengambil inspirasi seperti ini. 


Masalahnya,  ketahanan fisik pemain timnas dan para pemain tentu jauh berbeda. Para pemain Liverpool hampir bermain dengan tempo tinggi dan gegen pressingnya hampir sepanjang 90 menit ful. Jauh berbeda dengan Timnas Indonesia. 

Timnas Indonesia, hanya mampu memperagakan gegen pressing hanya kurang lebih 20 menit pertama. Dengan hasil 1 goal. Selanjutnya tempo permainan jadi menurun. 

Satu warna berikutnya adalah warna biru langit Manchester City. Dengan positioning football. Dengan tiki-taka khas maestro Spanyol, Pep Guardiola. Sesekali terlihat dalam permainan timnas babak pertama. 

Pola tiki-taka ini memberi keuntungan pada timnas saat fisik pemain mulai terkuras. Dan terlihat di pertengahan babak pertama dan selanjutnya.  Sehingga kontrol permainan tetap di kaki para pemain Indonesia. 

Dengan gaya bermain gado-gado ini Indonesia mampu menangani timnas Curacao, yang secara fisik sebenarnya lebih unggul. Baik tinggi dan ketahanannya.  Tapi malah seolah dipaksa bermain dengan serangan balik saja sebagai senjata. 


Pada babak kedua, menit ke 46 Indonesia sudah kebobolan. Baru ditinggal baringan, karena jedah babak pertama dan iklan. Balik lagi menit ke 60 skor sudah 1-1.

Untungnya timnas mampu memanfaatkan keunggulan jumlah pemain, karena pemain Curacao, Junino dikartu merah oleh wasit. Sehingga skor pun berakhir 2-1 untuk keunggulan Indonesia, berkat goal yang dicetak Dicky. Hasil yang sangat diharapkan tentunya.

Dengan hasil ini, timnas dan pecinta bola tanah air boleh bahagia dan berbangga tentunya. Tapi jangan berlebihan, karena ini hanya laga persahabatan yang diselenggarakan secara resmi oleh FIFA. Palingan cuma merubah posisi ranking sedikit. Gak terlalu penting.

Yang paling penting, Indonesia harus melihat perkembangan tim. Apa yang harus dibenahi dari laga ini. Dan apa yang sudah digapai sebagai bentuk kemajuan dari sebuah proses yang dilalui. Pembuktian yang sebenarnya adalah juara di laga resmi.

Sahabat Genius Football, untuk mendapatkan update terbaru dan menarik, silahkan klik "ikuti" di pojok kiri atas. Salam sehat tanpa batas !





Saturday, September 24, 2022

Melihat Kemajuan Permanainan Timnas Senior Vs Curacao di Era Shin Tae Yong

Memulai babak pertama dengan ketertinggalan lebih dulu, memaksa timnas untuk bekerja lebih keras. Gol Curacao yang bermula dari bola tendangan luar kotak pinalti yang membentur tiang gawang, berhasil disambar Junino menjadi gol. Bagusnya timnas bereaksi tepat, dengan memasukkan gol balasan lewat tandukan Fachruddin di dalam kotak pinalti Curacao. 

Dalam aksi jual beli serangan antara Timnas Indonesia dan Curacao di babak pertama berakhir sama kuat 2-2. Satu gol lagi disumbangkan Marc Klok lewat serangan terbuka dari para pemain Indonesia. Yang kemudian dibalas satu gol lagi oleh pemain tim lawan. 


Dari sisi fisik para pemain mampu mengimbabangi pemain-pemain Curacao yang terlihat lebih tinggi. Ini juga yang menjadi poin plus di era kepelatihan Shin Tae Yong. Penyakit lama timnas, yang terkenal hanya bisa bermain 45 menit sepertinya mulai bisa teratasi. 

Kekurangan yang terlihat jelas di tim, kurangnya tempo dan intensitas permainan.  Perpindahan bola dari kaki ke kaki agak lambat. Sehingga sedikit mengurangi nilai estetika permainan sepak bola itu sendiri. Walau pola permainannya juga cukup terorganisir. 

Pada menit 55 kerja sama pemain tim Idonesia bisa diacungi jempol, dengan dua tiga sentuhan bola. Sebelum Dimas Drajat menyambut dengan tendangan backheelnya yang berbuah gol. Skor berubah menjadi 3-2. Ini juga menjadi sinyal positif bagi timnas,  yang sedikit bermasalah dengan finishing touchnya. 

Kemenengan Timnas Indonesia pun berlatahan hingga peluit panjang dibunyikan.  Tae-Yong terlihat mateng dalam meramu taktik terbaik bagi para pemain. Mereka terlihat dinamis dalam membangun serangan. Dengan catatan, dalam aspek bertahan masih harus ada pembenahan. 

Dari aspek mentalitas para pemain juga mulai disuntikkan semangat berjuang tanpa batas. Selama peluit belum dibunyikan harus tetap bekerja untuk memenangkan pertandingan. Dengan fakta, tim pada menit ke-5, kebobolan lebih dulu, tapi mental pemain tidak runtuh. Malah menambahkan semangat untuk mengejar ketertinggalan.


Kemenangan melawan Curacao, semoga menjadi indikasi awal, bahwa timnas senior sudah bisa menjadi kebanggaan rakyat Indonesia.  Seharusnya menjadi teladan bagi timnas kelompok umur di bawahnya. Bukan malah kebalikannya. 

Ini hanyalah laga persahabatan.  Bukan sebuah kompetisi resmi, walau diselenggarakan oleh FIFA. Menang atau kalah, merupakan alat ukur saja kemajuan dan kekurangan tim. 

Melihat keseriusan dua tim, dalam jual beli serangan terkesan ini laga yang sangat serius.  Laga yang seolah perlu untuk terus dimenangkan bahkan tiap detiknya. Bisa dimaklumi, karena terkait gengsi dari kedua negara. Ini cerminan tim terbaik di negara masing-masing. 

Sahabat Genius Football, untuk mendapatkan info update terbaru, silahkan klik kolom "ikuti" blog ini. Salam sehat tanpa batas ! 







Saturday, September 17, 2022

Carlo Ancelotti Sang Raja Liga Champion Eropa

Ada banyak pelatih hebat yang pernah memenangkan tropi liga yang sangat bergengsi di Eropa. Di antara sekian banyak pelatih yang ada, nama Carlo Ancelotti salah satunya. Tidak tanggung-tanggung, sudah empat tropi Champion League yang sudah digapainya. Terbanyak dari pelatih manapun.

Pria berkebangsaan Italia ini, terkenal dengan gaya melatih konservatif dengan formasi yang sering dipakai 4-3-2-1 atau bisa juga 4-3-1-2. Terkadang juga memakai 4-3-3, tergantung kebutuhan tim dan lawan yang akan dihadapi. Satu yang pasti, sang juru taktik memperhatikan keseimbangan menyerang dan bertahan.

Baca juga : Pertarungan Dua Murid Pep Guardiola di Laga Arsenal Vs MU

Sudah empat Tropi yang berhasil diraih sang Italiano ketika tulisan ini dilansir. Musim 2021-2022, 2013-2014 bersama Real Madrid. Periode 2006-2007, 2002-2003 bersama AC Milan. Belum lagi deretan tropi lain yang berhasil dipersembahkan oleh si genius taktik ini.

Gelar juara sefantastis Liga Champion tentu butuh perpaduan kegeniusan pelatih dalam meramu strategi dan kecakapan skill olah bola para pemain dalam menerapkan game plan yang sudah dirancang pelatih. Ada banyak pemain hebat yang mengiringi kesuksesan Anceloti sendiri. Terbukti di Everton Don Carlo terlihat hanya sebagai pelatih yang biasa saja.

Berikut nama-nama pemain tenar yang pernah mengantarkan nama Anceloti menduduki Singgasana Raja Liga Champion. Tentu ada nama Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema sebagai pemain andalan Madrid. Dua nama ini tidak bisa dihilangkan.


Di AC Milan ada banyak legenda yang mengiringinya. Kita sebut saja Filippo Inzaghi salah satunya. Nama Pirlo juga tidak bisa dilupakan. Kaka juga salah satu yang patut diperhitungkan. Dan masih banyak yang lain lagi.

Mengingat rentang waktu sang juru taktik menjuarai liga Champion, bisa dikatakan Don Carlo sapaan akarabnya mewakili sepak bola masa lalu dan masa kini. Dengan karier kepelatihan yang cukup panjang. Walau di era keemasan Messi dan Cristiano nama sang pelatih seolah tenggelam. 

Publik sepakbola dunia seolah menyatakan, siapapun yang melatih dua pemain ini akan dengan mudah menggapai juara. Dan faktanya seolah mendukung itu. Dua pemain ini bahkan bergantian memenangkan gelar pemain terbaik Eropa.

Tapi, sekali lagi apapun alasannya, faktanya Ancelottilah pemegang rekor pelatih dengan juara Liga Champion terbanyak saat ini. Suka tidak suka. Satuju atau tidak. 

Sahabat Genius Football, untuk mendapatkan up-date conten terbaru, silahkan klik "ikuti" di pojok kiri atas. Salam sehat tanpa batas !