Followers
Sunday, August 7, 2022
Westham Vs Manchester City Rasa Haland
Wednesday, August 3, 2022
Ini Rahasia Timnas - U16 Menghajar Singapura dengan Skor Telak
Menonton para pemain junior remaja berlaga di Piala AFF kali ini sangat menyenangkan. Bagaimana mereka mengalirkan bola dari kaki ke kaki, sangat aduhai sekali. Lupa bahwa mereka baru sebuah tim remaja.
Skema dan pola permainan menawan yang diperagakan pesepakbola remaja Indonesia, bukan ujuk-ujuk terjadi, tidak sama sekali. Loh kok? Ya gini ceritanya. Untuk menganalisis pola permainan Timnas U-16 kita perlu melirik dulu sosok pelitih di belakang layarnya.
Coach Bima Sakti yang saat ini menukangi U-16, oleh PSSI sebelumnya emang sudah disekolahkan ke pelatih berkaliber international dalam diri Luis Milla yang punya track record mentereng dalam menangani tim remaja Eropa, spesifik Spanyol. Dengan cara menjadi asisten pelatih lokalnya. Tentu dengan kebersamaan dalam satu tim kepelatihan akan menyerap banyak inspirasi taktikal dan tekhnikal.
Baca juga : Ternyata Ini yang Membuat Vietnam dan Thailand Takut Melawan Indonesia !
Sebagaimana biasa, timnas Indonesia di segala lapisan umur, banyak dikritik tentang bagaimana passing pemain yang "ugal-ugalan", sehingga menyulitkan pemain lain dalam menerimanya. Kasus passing brutal, jarang terlihat dalam permainan timnas remaja ini. Ya berkah dari belajar pada pelatih-pelatih berkaliber internasional yang pernah menangani timnas. Khususnya, Luis Milla.
Faktor perkembangan media informasi juga ambil bagian dalam pola permainan yang ciamik ini. Sudah mafhum dikalangan pecinta bola Indonesia, salah satu pelatih hebat Indra Syafri, yang berhasil mengantarkan timnas remaja U-19 ke tangga juara. Pola permainan yang dipakai pendek-pendek-panjang. Alias pola kombinasi tiki-taka Barca dan Kick and Runnya sepak bola ratu Elizabeth. Tentu, para pelatih, lebih mudah mengakses berbagai pola permainan sepak bola modern, dengan perkembangan tekhnologi informatika dan medianya.
Interaksi antar pelatih Timnas Indonesia, akan saling membarikan inspirasi. Termasuk Indra Syafri - Luis Milla - Bima Sakti. Maka tidak heran, tim muda ini bisa memperagakan permainan satu dua sentuhan dengan baik. Kebetulan korbannya adalah Singapura, yang notabene dilatih oleh pelatih kebangsaan Spanyol. Kemengan 9-0 ini, bukan kemenangan biasa. Luar biasa.
Baca juga : Liverpool Menjadi Kucing Angora di Hadapan MU Era Ten Hag
U-16 terlihat nyaman membangun serangan dari belakang. Memindahkan bola antar lini. Mengoper bola ke segala sisi, dengan jarang melakukan kesalahan passing. Trus dengan passing yang akurat juga. Oya, ujungnya finishing touchnya juga oke. Mantap luar biasa.
Semangat U-16 dan berkembang sebagai tim. Diharapkan mampu memberikan prestasi yang mentereng untuk Indonesia di masa depan. bukan kayak sebelum-sebelumnya. Pas remaja bagus, selajutnya ketika senior, kayak gak pernah main bola. Wkwkkwk. Salam sehatr luar bisa.
Tuesday, July 12, 2022
Liverpool Menjadi Kucing Angora di Hadapan MU Era Ten Hag
Sangat menarik mengamati 17 menit awal babak pertama duel pramusim Manc.United Vs. Liverpool di Stadion Rajamanggala Thailand. Sebelum laga ini digelar, selama ini The Red Devils julukan Manc. United, hanyalah tim artefak. Tim kaya sejarah dan prestasi di masa lalu, menjelma tim medioker selama 10 tahun terkhir.
Sangat terlihat sekali pola permainan MU di bawah komando Erik Ten Hag. Tim yang semula hanya berisi pemain mahal dan mantan bintang semacam Cristiano Ronaldo pun hanya bisa terlihat sebagai gerombolan pemain yang terkesan biasa saja. Ten Hag mampu memberikan sentuhan tangan dingin dalam pertandingan ini.
Menarik bagaimana MU bermain dalam game ini. Liverpool di bawah komando Kloppo, yang sangat disegani di level Eropa, seolah kehilangan pamornya. Tim dengan kemampuan dominasi yang sangat tinggi, dibuat seperti hanya segerombolan kucing angora. Wkwkwk.
Tidak sulit rasanya menentukan MU sebagai pemenang pertandingan, hanya dalam beberapa sentuhan bola. Walau mungkin saya hanya menonton kurang lebih 15 menit pertama, sebelum sekalian nyambi menulis analisis melalui tulisan ini. Sentuhan-sentuhan bolanya, yang semula terlihat pemain "sampah", terkesan brilian.
Baca juga : Di Tangan Erik Ten Hag, MU Pemutus Dominasi City dan Liverpool ?
Hampir bisa dipastikan kiprah MU pada musim 2022-2023 mendatang akan sangat berbeda. Jika para pemain MU mampu mentarjemahkan konsep permainan mantan asisten Pep Guardiola ini, di lapangan, maka tanpa Cristiano Ronaldo dan Pogba pun akan menjadi tim yang mengerikan. Setan Merah seolah-olah terpompa semangat sepuluh kali lipat dari biasanya.
Tidak ada lagi kuda pacu antara Manc.City dan Liverpool dengan melihat penampilan MU melawan Liverpool dalam komando Ten Hag. Ah masak sih? Ya, jelas lah, bagaimana tim ini bekerja sebagai sebuah tim. dengan sistem permainan yang sangat attraktif. Relasi antar lini, seolah dikomandoi oleh visi bermain yang sangat brilian.
Baca juga : Gaya Belajar Hans-Dieter Flick Sehingga Membawa Bayern Muenchen Juara Liga Champion Edisi 2019/2020
Maka akan rumit sekali menebak siapa juara Primier League musim 2022-2023 mendatang dengan penampilan MU yang baru beberapa hari ditangani Ten Hag. Gak kebayang klo Si Genius Football yang satu ini makin lama bersama tetangga City. Serem pokoknya.
Pada menit 81.27 MU sudah unggul 4-0 atas Liverpool. Ini baru bukti awal kebangkitan . Walau terlalu dini unruk menyebut sebagai calon kuat juara edisi musim depan. Salam sehat luar biasa !
Sunday, July 10, 2022
Ternyata Ini yang Membuat Vietnam dan Thailand Takut Melawan Indonesia !
Sambil nyeruput segelas kopi susu, saya sempatkan menonton Timnas U-19 Vs Myanmar U-19 Piala AFF. Itung-itung udah lama gak nonton Timnas Indonesia. Malesnya, pas semangat nonton biasanya kalah mulu. Ditambah, identitas permainan timnas juga gak jelas. Beda banget dengan pola permainan tim-tim top Eropa yang sering saya tonton.
Nah, gak nyana dan gak nduga sama sekali nonton yang ini jauh beda. Sejak pluit dibunyikan terlihat timnas nyaman memainkan kombinasi umpan-umpan pendek dan panjang. Terlihat juga tekhnik dan ketahanan fisik pemain lebih berkelas.
Aspek mental juga makin oke. Terbukti setelah beberapa menit pertandingan babak pertama berjalan, Timnas kebobolan lebih dulu. Uniknya, tidak berpengaruh pada pola koordinasi dan sistem permainan yang telah direncanakan. Gampangnya, game plan pelatih di lapangan.
Baca juga : Di Tangan Erik Ten Hag, MU Pemutus Dominasi City dan Liverpool ?
Malah Timnas U-19 berhasil menumpas habis Myanmar dengan gelontoran 5 goal di babak pertama. Keren banget pokoknya. Gak rugi nonton pertandingan ini. Bahagia banget.
Selama 45 menit babak pertama saya pelototin tu TV, timnas muda sudah unggul 5-1. Saya matiin ja dah TVnya, ganti main catur ja. Ditonton juga, timnas tersayang sudah unggul jauh. Jarang terjadi di level Asia Tenggara, cerita comeback seperti kisah ditumbangkannya Manc.City oleh Real Madrid di Liga Champion. Sederhannya, sudah pasti menang, ngapain ditonton juga. Wkwkwkw.
Sedihnya tuh ya, pagi bener saya baca-baca berita, ada kabar koran elektronik " Timnas U-19 gagal lolos ke semifinal terbentur regulasi FIFA". Eh, setelah di baca lebih jauh, ternyata katanya Indonesia kalah head-to-head dengan Vietnam dan Thailand. Maksudnya gimana sih? Gini, saat Indonesia melawan Vietnam dan Thailand skornya kacamata 0 - 0. Tapi pas Vietnam Vs Thailand skor juga imbang, tapi 1 - 1. Gitu lhoooo. Jadi, walau ketiga negara sama-sama mengoleksi 11 poin, bahkan Indonesia unggul produktifitas goal, tetep Indonesia gak lolos. Gagal gitu. Yang lolos ke semifinal mewakili group ini, ya Thailand dan Vietnam. Kasian deh pokoknya.
Baca juga : Adu Jenius Diego Simeone vs Pep Guardiola di Pentas Liga Champion 2022
Makanya Si Iwan Bule, ketua PSSI dan jajarannya ngadain rapat darurat tuk menggugat FIFA agar menyelidiki dugaan sepak bola "main mata" ala Vietnam dan Thailand. Mana ada kebetulan dan klop banget dengan regulasi FIFA. Mesti diselidiki tuh dugaan. Apalagi Iwan Bule tu juga mantan kabareskrim Polri loh, makanya paham yang begini-begini. Pokoknya usut tuntas pak.
Terlepas dari kasus sepakbola kucing meong ini, coba kita liat sisi positif perkembangan Timnas U-19 Indonesia ini. Saya menontonnya, sudah kayak nonton tim Manchester City lho ya. Mereka nyaman memainkan bola-bola pendek, dan sesekali bola panjang. Ditopang dengan kekuatan fisik yang prima. Kualitas passingnya juga akurat. Klo berproses lebih lanjut dengan benar, Indonesia bisa berharap banyak dari tim ini.
Semoga tidak seperti yang sudah-sudah, pas U-19 oke dan menjanjikan. Ketika naik ke level senior, kembali lagi kayak orang baru belajar main sepak bola. Bermain ala tarkam lah. Acak-kadul pokoknya. Jadi males nontonya klo gitu. Sebenarnya ada apa ya dengan sepak bola Indonesia ?
Salam sehat luar biasa !
Wednesday, June 1, 2022
Di Tangan Erik Ten Hag, MU Pemutus Dominasi City dan Liverpool ?
Kesepakatan manajemen Manchester United menjadikan Erik Ten
Hag sebagai manajer baru pada periode 2022-2023.
Salah satu usaha yang cukup bagus dari jajaran manajemen. Setelah berkali-kali
gagal mengulang peruntungan dengan mendatangkan pelatih-pelatih top di Eropa.
Tentu fans MU akan dibuat ketar-ketir juga, mengingat
catatan kursi pelatih kepala yang gonta-ganti. Itupun, dihuni dengan oleh
nama-nama besar. Bukan hanya pelatih kacangan. Namun, hasilnya jauh panggang
daripada api. MU menjelma menjadi tim medioker.
MU yang semula Singa Inggris dan Eropa di tangan Fergie,
menjelma jadi kucing Inggris di tangan yang lain. Ketergantungan pada sosok
pelatih legendaris itu, terlalu dominan. Pelatih dengan seabrek trophy macam
Jose Mourinho pun seolah kehilangan ke’Specialanone’nya. Dengan segudang alasan
yang melatar belakanginya. Maka tidak heran kalau sebagian fans MU masih
traumatik dengan seringnya ganti pelatih, seolah gak guna.
Baca juga : Membaca Peta Formasi 4-1-4-1 dalam Memenangkan Football Game
Belum lagi yang terbaru kebijakan duplikasi dari manajemen
karena melihat kesuksesan transfer Kloppo di Liverpool dan Tuchel di Chelsea,
dengan penunjukan guru mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Sang Profesor
taktik, Ralf Rangnik. Nyatanya juga gak ngaruh. Pantas saja salah satu legenda
mereka mengatakan, jangan terlalu berharap dengan penunjukan Ten Haq, dengan
segala kritik dan kemungkinannya.
Menarik mencermati sosok Ten Hag, di tengah keinginan
manajemen MU untuk prestasi instan yang harus dicapai tim. Terlihat dari cara mereka menunjuk pelatih
setelah puluhan tahun tidak pernah ganti. Dan bagaimana mereka bermanuver di
bursa transfer, seolah-olah mereka kehilangan visi dalam membangun sebuah tim
sepakbola. Hasilnya, kacau.
Pengalaman melatih Ten Hag, terbilang oke untuk tim yang
seadanya. Untuk MU tentu beda lagi ceritanya. Lemari trophy MU jauh lebih
banyak isinya, ketimbang koleksinya. Tapi itu juga lebih banyak dipersembahkan
Fergie. Tidak heran salah satu legenda klub meragukan kapasitas Ten Hag yang
belum pernah melatih klub besar. Mari kita lirik prestasi pelatih yang satu
ini.
Pada 21 Desember 2017, ia diangkat sebagai pelatih kepala
Ajax. Pada tahun 2019, ia memimpin timnya mencapai semi-final Liga Champions
UEFA 2018–2019 untuk pertama kalinya sejak tahun 1997. Pada saat itu Ajax
menang melawan juara bertahan Real Madrid 4–1 di Stadion Santiago BernabĂ©u pada
babak 16 besar. Mengalahkan Juventus saat laga tandang dengan skor 1-2 setelah
sebelumnya bermain imbang pada leg pertama 1-1 di kandang di perempatfinal.
Pada leg pertama semifinal, Ajax berhasil memenangkan pertandingan melawan
Tottenham Hotspur dengan skor 1-0 di Stadion Tottenham Hotspur yang baru saja
selesai dibangun. Namun di leg kedua,
hat-trick babak kedua oleh Lucas Moura mengakhiri harapan Ajax dengan agregat
3-3 dengan kekalahan gol tandang. (https://id.wikipedia.org/wiki/Erik_ten_Hag).
Ia memenangkan trofi manajerial pertamanya bersama Ajax pada
tanggal 5 Mei 2019, dengan menjuarai Piala KNVB 2018–2019, mengalahkan Willem
II di final. Hanya 10 hari setelah memenangkan piala tersebut, Ajax, yang
dipimpin oleh Ten Hag kemudian memenangkan Eredivisie juga setelah kemenangan
tandang 1-4 atas De Graafschap. (https://id.wikipedia.org/wiki/Erik_ten_Hag).
ten
Hag menjadi manajer tercepat dalam sejarah liga yang mencapai 100 kemenangan
bersama Ajax. Ia mencapai prestasi tersebut hanya dalam 128 pertandingan,
ketika timnya mengalahkan FC Utrecht 3-0. (https://id.wikipedia.org/wiki/Erik_ten_Hag).
Sedikit gambaran profil Erick Ten Hag ini, terlihat jelas
bukan seorang pelatih sembarangan. Tentu termasuk salah satu yang bertalenta. Meski
banyak orang yang masih meragukan kemampuannya melatih sebuah tim yang kaya
sejarah seperti MU. Ditambah lagi dengan
fakta rekam jejak para pelatih sebelumnya, pasca era Fergie, juga tidak kalah
mentereng dengannya.
Baca juga : Adu Jenius Diego Simeone vs Pep Guardiola di Pentas Liga Champion 2022
Di sisi yang lain, juga tidak bisa dianggap remeh, Ten Hag mampu menaklukkan tim sekelas Madrid dan Juventus di Liga Champion. Dengan fakta hanya dengan sebuah tim yang pada saat itu, dipandang seadanya. Buka napa-apa dan siapa-siapa. Simplenya tim bau kencur.




