Followers

Sunday, August 7, 2022

Westham Vs Manchester City Rasa Haland



Bermain melawan Westham United di pekan perdana liga Primier Inggris, style City sedikit berbeda.  Tampak dalam pola permainan yang  beda pula.  Bagaimana City begitu pede dengan sering mengangkat bola ke udara di sepertiga akhir lapangan lawan. 

Hasilnya,  hanya berjalan beberapa menit saja, keeper Westham langsung cedera karena berjibaku mengamankan gawangnya.  Berduel dengan pemain City terlebih Haland.  Ancaman udara begitu nyata dengan keberadaan pemain yang satu ini. 

Bagaimana Haland begitu dimanjakan dengan umpan-umpan matang dari kaki Foden, De Bruyne dan Grilish yang diterbangkan di udara. Gaya seperti ini sedikit berbeda dengan rasa City sebelum kedatangan Haland.  Jelas ini sedikit modifikasi dari pelatih. 


Walau dari skema udara belum ada yang berbuah goal, tapi sudah cukup membuat skema permainan Westham menjadi seolah mangkrak.  Ditambah, tekhnik olah bola para pemain City yang di atas rata-rata. Dengan akurasi passing yang menawan. 

Uniknya, goal justru terjadi lewat keahlian Haland yang lain. Berlari dan menciptakan peluang. Memaksa bek lawan melakukan pelanggaran di kotak pinalti. 

"Booom", langsung saja goal.  Haland maju sendiri sebagai eksekutornya.  Biasanya dibagian mencetak goal, dari titik pinalti City sering gagal.  Sepertinya sudah teratasi dengan keberadaannya. Dengan proses yang juga oke, karena keeper Westham terkecoh. 

Skor 1-0 bertahan sampai turun minum. Haland sudah membuktikan kemampuan dan kapasitasnya. Sekaligus alasan mengapa ia didatangkan dengan harga yang mahal. 


Di babak kedua Haland menunjukkan keahlian yang lain.  Berdiri di sela-sela para bek, sekaligus berlari di antara mereka. Dalam sekejap keluar dari kawalan untuk menyambut umpan terobosan dari rekan satu tim. Selanjutnya, terlihat sangat mudah menaklukkan bek dan keeper Westham. Luar biasa. 

Dalam Pertandingan ini,  benar-benar City rasa Haland. Masih banyak pertandingan yang harus dijalani.  Musim masih sangat panjang, maka kemenangan 2-0 atas Westham dirasa Pep sudah cukup.  Terbukti banyak pemain utama ditarik keluar. Digantikan dengan pemain muda. 

Salam olah raga dan sehat luar biasa.  

Wednesday, August 3, 2022

Ini Rahasia Timnas - U16 Menghajar Singapura dengan Skor Telak

 Menonton para pemain junior remaja berlaga di Piala AFF kali ini sangat menyenangkan. Bagaimana mereka mengalirkan bola dari kaki ke kaki, sangat aduhai sekali. Lupa bahwa mereka baru sebuah tim remaja. 

Skema dan pola permainan menawan yang diperagakan pesepakbola remaja Indonesia, bukan ujuk-ujuk terjadi, tidak sama sekali. Loh kok? Ya gini ceritanya. Untuk menganalisis pola permainan Timnas U-16 kita perlu melirik dulu sosok  pelitih di belakang layarnya. 

Coach  Bima Sakti yang saat ini menukangi U-16, oleh PSSI sebelumnya emang sudah disekolahkan ke pelatih berkaliber international dalam diri Luis Milla yang punya track record mentereng dalam menangani tim remaja Eropa, spesifik Spanyol. Dengan cara menjadi asisten pelatih lokalnya. Tentu dengan kebersamaan dalam satu tim kepelatihan akan menyerap banyak inspirasi taktikal dan tekhnikal.

Baca juga : Ternyata Ini yang Membuat Vietnam dan Thailand Takut Melawan Indonesia !

Sebagaimana biasa, timnas Indonesia di segala lapisan umur, banyak dikritik tentang bagaimana passing pemain yang "ugal-ugalan", sehingga menyulitkan pemain lain dalam menerimanya. Kasus passing brutal, jarang terlihat dalam permainan timnas remaja ini. Ya berkah dari belajar pada pelatih-pelatih berkaliber internasional yang pernah menangani timnas. Khususnya, Luis Milla.

Faktor perkembangan media informasi juga ambil bagian dalam pola permainan yang ciamik ini. Sudah mafhum dikalangan pecinta bola Indonesia, salah satu pelatih hebat Indra Syafri, yang berhasil mengantarkan timnas remaja U-19 ke tangga juara. Pola permainan yang dipakai pendek-pendek-panjang. Alias pola kombinasi tiki-taka Barca dan Kick and Runnya sepak bola ratu Elizabeth. Tentu, para pelatih, lebih mudah mengakses berbagai pola permainan sepak bola modern, dengan perkembangan tekhnologi informatika dan medianya. 

Interaksi antar pelatih Timnas Indonesia, akan saling membarikan inspirasi. Termasuk Indra Syafri - Luis Milla - Bima Sakti. Maka tidak heran, tim muda ini bisa memperagakan permainan satu dua sentuhan dengan baik. Kebetulan korbannya adalah Singapura, yang notabene dilatih oleh pelatih kebangsaan Spanyol. Kemengan 9-0 ini, bukan kemenangan biasa. Luar biasa.

Baca juga : Liverpool Menjadi Kucing Angora di Hadapan MU Era Ten Hag

U-16 terlihat nyaman membangun serangan dari belakang. Memindahkan bola antar lini. Mengoper bola ke segala sisi, dengan jarang melakukan kesalahan passing. Trus dengan passing yang akurat juga. Oya, ujungnya finishing touchnya juga oke. Mantap luar biasa. 

Semangat U-16 dan berkembang sebagai tim. Diharapkan mampu memberikan prestasi yang mentereng untuk Indonesia di masa depan. bukan kayak sebelum-sebelumnya. Pas remaja bagus, selajutnya ketika senior, kayak gak pernah main bola. Wkwkkwk. Salam sehatr luar bisa. 



Tuesday, July 12, 2022

Liverpool Menjadi Kucing Angora di Hadapan MU Era Ten Hag

 


Sangat menarik mengamati 17 menit awal babak pertama duel pramusim Manc.United Vs. Liverpool di Stadion Rajamanggala Thailand. Sebelum laga ini digelar, selama ini The Red Devils julukan Manc. United, hanyalah tim artefak. Tim kaya sejarah dan prestasi di masa lalu, menjelma tim medioker selama 10 tahun terkhir.

Sangat terlihat sekali pola permainan MU di bawah komando Erik Ten Hag. Tim yang semula hanya berisi pemain mahal dan mantan bintang semacam Cristiano Ronaldo pun hanya bisa terlihat sebagai gerombolan pemain yang terkesan biasa saja. Ten Hag mampu memberikan sentuhan tangan dingin dalam pertandingan ini. 

Menarik bagaimana MU bermain dalam game ini. Liverpool di bawah komando Kloppo, yang sangat disegani di level Eropa, seolah kehilangan pamornya. Tim dengan kemampuan dominasi yang sangat tinggi, dibuat seperti hanya segerombolan kucing angora. Wkwkwk.

Tidak sulit rasanya  menentukan MU sebagai pemenang pertandingan, hanya dalam beberapa sentuhan bola. Walau mungkin saya hanya menonton kurang lebih 15 menit pertama, sebelum sekalian nyambi menulis analisis melalui tulisan ini. Sentuhan-sentuhan bolanya, yang semula terlihat pemain "sampah", terkesan brilian. 

Baca juga : Di Tangan Erik Ten Hag, MU Pemutus Dominasi City dan Liverpool ?

Hampir bisa dipastikan kiprah MU pada musim 2022-2023 mendatang akan sangat berbeda. Jika para pemain MU mampu mentarjemahkan konsep permainan mantan asisten Pep Guardiola ini, di lapangan, maka tanpa Cristiano Ronaldo dan Pogba pun akan menjadi tim yang mengerikan. Setan Merah seolah-olah terpompa semangat sepuluh kali lipat dari biasanya.

Tidak ada lagi kuda pacu antara Manc.City dan Liverpool dengan melihat penampilan MU melawan Liverpool dalam komando Ten Hag. Ah masak sih? Ya, jelas lah, bagaimana tim ini bekerja sebagai sebuah tim. dengan sistem permainan yang sangat attraktif. Relasi antar lini, seolah dikomandoi oleh visi bermain yang sangat brilian.

Baca juga : Gaya Belajar Hans-Dieter Flick Sehingga Membawa Bayern Muenchen Juara Liga Champion Edisi 2019/2020

Maka akan rumit sekali menebak siapa juara Primier League musim 2022-2023 mendatang dengan penampilan MU yang baru beberapa hari ditangani Ten Hag.  Gak kebayang klo Si Genius Football yang satu ini makin lama bersama tetangga City. Serem pokoknya. 

Pada menit 81.27 MU sudah unggul 4-0 atas Liverpool. Ini baru bukti awal kebangkitan . Walau terlalu dini unruk menyebut sebagai calon kuat juara edisi musim depan. Salam sehat luar biasa !



Sunday, July 10, 2022

Ternyata Ini yang Membuat Vietnam dan Thailand Takut Melawan Indonesia !

 

Sambil nyeruput segelas kopi susu, saya sempatkan menonton Timnas U-19 Vs Myanmar U-19 Piala AFF. Itung-itung udah lama gak nonton Timnas Indonesia. Malesnya, pas semangat nonton biasanya kalah mulu. Ditambah, identitas permainan timnas juga gak jelas. Beda banget dengan pola permainan tim-tim top Eropa yang sering saya tonton.

Nah, gak nyana dan gak nduga sama sekali nonton yang ini jauh beda. Sejak pluit dibunyikan terlihat timnas nyaman memainkan kombinasi umpan-umpan  pendek dan panjang. Terlihat juga tekhnik dan ketahanan fisik pemain lebih berkelas.

Aspek mental juga makin oke. Terbukti setelah beberapa menit pertandingan babak pertama berjalan, Timnas kebobolan lebih dulu. Uniknya, tidak berpengaruh pada pola koordinasi dan sistem permainan yang telah direncanakan. Gampangnya, game plan pelatih di lapangan.

Baca juga : Di Tangan Erik Ten Hag, MU Pemutus Dominasi City dan Liverpool ?

Malah Timnas U-19 berhasil menumpas habis Myanmar dengan gelontoran 5 goal di babak pertama. Keren banget pokoknya. Gak rugi nonton pertandingan ini. Bahagia banget.

Selama 45 menit babak pertama saya pelototin tu TV, timnas muda sudah unggul 5-1. Saya matiin ja dah TVnya, ganti main catur ja. Ditonton juga, timnas tersayang sudah unggul jauh. Jarang terjadi di level Asia Tenggara, cerita comeback seperti kisah ditumbangkannya Manc.City oleh Real Madrid di Liga Champion. Sederhannya, sudah pasti menang, ngapain ditonton juga. Wkwkwkw.

Sedihnya tuh ya, pagi bener saya baca-baca berita, ada kabar koran elektronik " Timnas U-19 gagal lolos ke semifinal terbentur regulasi FIFA". Eh, setelah di baca lebih jauh, ternyata katanya Indonesia kalah head-to-head dengan Vietnam dan Thailand. Maksudnya gimana sih? Gini, saat Indonesia melawan Vietnam dan Thailand skornya kacamata 0 - 0. Tapi pas Vietnam Vs Thailand skor juga imbang, tapi 1 - 1. Gitu lhoooo. Jadi, walau ketiga negara sama-sama mengoleksi 11 poin, bahkan Indonesia unggul produktifitas goal, tetep Indonesia gak lolos. Gagal gitu. Yang lolos ke semifinal mewakili group ini, ya Thailand dan Vietnam. Kasian deh pokoknya.

Baca juga : Adu Jenius Diego Simeone vs Pep Guardiola di Pentas Liga Champion 2022

Makanya Si Iwan Bule, ketua PSSI dan jajarannya ngadain rapat darurat tuk menggugat FIFA agar menyelidiki dugaan sepak bola "main mata" ala Vietnam dan Thailand. Mana ada kebetulan dan klop banget dengan regulasi FIFA. Mesti diselidiki tuh dugaan. Apalagi Iwan Bule tu juga mantan kabareskrim Polri loh, makanya paham yang begini-begini. Pokoknya usut tuntas pak.

Terlepas dari kasus sepakbola kucing meong ini, coba kita liat sisi positif perkembangan Timnas U-19 Indonesia ini. Saya menontonnya, sudah kayak nonton tim Manchester City lho ya. Mereka nyaman memainkan bola-bola pendek, dan sesekali bola panjang. Ditopang dengan kekuatan fisik yang prima. Kualitas passingnya juga akurat. Klo berproses lebih lanjut dengan benar, Indonesia bisa berharap banyak dari tim ini.

Semoga tidak seperti yang sudah-sudah, pas U-19 oke dan menjanjikan. Ketika naik ke level senior, kembali lagi kayak orang baru belajar main sepak bola. Bermain ala tarkam lah. Acak-kadul pokoknya. Jadi males nontonya klo gitu. Sebenarnya ada apa ya dengan sepak bola Indonesia ? 

Salam sehat luar biasa !





Wednesday, June 1, 2022

Di Tangan Erik Ten Hag, MU Pemutus Dominasi City dan Liverpool ?

 

Kesepakatan manajemen Manchester United menjadikan Erik Ten Hag sebagai manajer baru pada periode 2022-2023. Salah satu usaha yang cukup bagus dari jajaran manajemen. Setelah berkali-kali gagal mengulang peruntungan dengan mendatangkan pelatih-pelatih top di Eropa.

Tentu fans MU akan dibuat ketar-ketir juga, mengingat catatan kursi pelatih kepala yang gonta-ganti. Itupun, dihuni dengan oleh nama-nama besar. Bukan hanya pelatih kacangan. Namun, hasilnya jauh panggang daripada api. MU menjelma menjadi tim medioker.

MU yang semula Singa Inggris dan Eropa di tangan Fergie, menjelma jadi kucing Inggris di tangan yang lain. Ketergantungan pada sosok pelatih legendaris itu, terlalu dominan. Pelatih dengan seabrek trophy macam Jose Mourinho pun seolah kehilangan ke’Specialanone’nya. Dengan segudang alasan yang melatar belakanginya. Maka tidak heran kalau sebagian fans MU masih traumatik dengan seringnya ganti pelatih, seolah gak guna.

Baca juga : Membaca Peta Formasi 4-1-4-1 dalam Memenangkan Football Game

Belum lagi yang terbaru kebijakan duplikasi dari manajemen karena melihat kesuksesan transfer Kloppo di Liverpool dan Tuchel di Chelsea, dengan penunjukan guru mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Sang Profesor taktik, Ralf Rangnik. Nyatanya juga gak ngaruh. Pantas saja salah satu legenda mereka mengatakan, jangan terlalu berharap dengan penunjukan Ten Haq, dengan segala kritik dan kemungkinannya.

Menarik mencermati sosok Ten Hag, di tengah keinginan manajemen MU untuk prestasi instan yang harus dicapai tim.  Terlihat dari cara mereka menunjuk pelatih setelah puluhan tahun tidak pernah ganti. Dan bagaimana mereka bermanuver di bursa transfer, seolah-olah mereka kehilangan visi dalam membangun sebuah tim sepakbola. Hasilnya, kacau.

Pengalaman melatih Ten Hag, terbilang oke untuk tim yang seadanya. Untuk MU tentu beda lagi ceritanya. Lemari trophy MU jauh lebih banyak isinya, ketimbang koleksinya. Tapi itu juga lebih banyak dipersembahkan Fergie. Tidak heran salah satu legenda klub meragukan kapasitas Ten Hag yang belum pernah melatih klub besar. Mari kita lirik prestasi pelatih yang satu ini.

Pada 21 Desember 2017, ia diangkat sebagai pelatih kepala Ajax. Pada tahun 2019, ia memimpin timnya mencapai semi-final Liga Champions UEFA 2018–2019 untuk pertama kalinya sejak tahun 1997. Pada saat itu Ajax menang melawan juara bertahan Real Madrid 4–1 di Stadion Santiago BernabĂ©u pada babak 16 besar. Mengalahkan Juventus saat laga tandang dengan skor 1-2 setelah sebelumnya bermain imbang pada leg pertama 1-1 di kandang di perempatfinal. Pada leg pertama semifinal, Ajax berhasil memenangkan pertandingan melawan Tottenham Hotspur dengan skor 1-0 di Stadion Tottenham Hotspur yang baru saja selesai dibangun.  Namun di leg kedua, hat-trick babak kedua oleh Lucas Moura mengakhiri harapan Ajax dengan agregat 3-3 dengan kekalahan gol tandang. (https://id.wikipedia.org/wiki/Erik_ten_Hag).

Ia memenangkan trofi manajerial pertamanya bersama Ajax pada tanggal 5 Mei 2019, dengan menjuarai Piala KNVB 2018–2019, mengalahkan Willem II di final. Hanya 10 hari setelah memenangkan piala tersebut, Ajax, yang dipimpin oleh Ten Hag kemudian memenangkan Eredivisie juga setelah kemenangan tandang 1-4 atas De Graafschap. (https://id.wikipedia.org/wiki/Erik_ten_Hag).

 Pada tanggal 18 April 2021, ten Hag memimpin Ajax menjuarai Piala KNVB ke-20 dengan kemenangan 2-1 atas Vitesse di final. Dua minggu kemudian, ten Hag memperpanjang kontraknya dengan Ajax hingga akhir musim 2022–2023. Pada 16 Januari 2022, Tenten Hag menjadi manajer tercepat dalam sejarah liga yang mencapai 100 kemenangan bersama Ajax. Ia mencapai prestasi tersebut hanya dalam 128 pertandingan, ketika timnya mengalahkan FC Utrecht 3-0. (https://id.wikipedia.org/wiki/Erik_ten_Hag).

Sedikit gambaran profil Erick Ten Hag ini, terlihat jelas bukan seorang pelatih sembarangan. Tentu termasuk salah satu yang bertalenta. Meski banyak orang yang masih meragukan kemampuannya melatih sebuah tim yang kaya sejarah  seperti MU. Ditambah lagi dengan fakta rekam jejak para pelatih sebelumnya, pasca era Fergie, juga tidak kalah mentereng dengannya.

Baca juga : Adu Jenius Diego Simeone vs Pep Guardiola di Pentas Liga Champion 2022

Di sisi yang lain, juga tidak bisa dianggap remeh, Ten Hag mampu menaklukkan tim sekelas Madrid dan Juventus di Liga Champion. Dengan fakta hanya dengan sebuah tim yang pada saat itu, dipandang seadanya. Buka napa-apa dan siapa-siapa. Simplenya tim bau kencur. 

Secara logis dan cerdas, jika manajemen MU mendukung secara penuh kebutuhan Ten Hag akan pemain yang sesuai dengan struktur permainan yang telah ia rancang, bukan tidak mungkin MU akan Kembali meramaikan persaingan juara musim depan. Sebaliknya, jika apa yang menimpa Jose Mourinho terjadi pada Ten Hag, maka bersabarlah fans United, karena Anda hanya mendukung tim artefak. Hanya tim peninggalan sejarah. Maka Manchester is sky blues. Salam sehat luar biasa.